Jumat, 22 Februari 2013

DASAR ILMU EKONOMI - Pengantar Ilmu Ekonomi


2.1 Masalah Pokok dalam Perekonomian
2.1.1 Sifat Keinginan Manusia
Manusia, secara individu dan secara bersama-sama menghadapi banyak masalah ekonomi. Masalah-masalah ekonomi tersebut timbul sebagai akibat dari tidak sesuainya jumlah kebutuhan manusia apabila dibandingkan dengan jumlah barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia atau dapat disediakan para pengusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Di satu pihak terdapat suatu keadaan di mana jumlah kebutuhan manusia yang hidup di dunia ini tidak terbatas banyaknya. Manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka peroleh dan mereka capai. Kalu keinginan di masa lalu telah tercapai, maka berbagai keinginan baru akan timbul. Salah satu sifat penting dalam hidup manusia adalah bahwa mereka akan selalu mempunyai keinginan untuk mencapai kesejahteraan yang lebih tinggi dari apa yang telah mereka capai.
Di lain pihak, faktor-faktor produksi yang dapat digunakan oleh manusia untuk menyediakan atau menghasilkan berbagai alat pemuas berbagai kebutuhan mereka sangat terbatas jumlahnya. Oleh karenanya barang-barang dan jasa-jasa yang dapat diciptakan oleh factor-faktor produksi yang tersedia adalah jauh lebih sedikit daripada jumlah kebutuhan manusia. Keadaan yang bertentangan inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai masalah ekonomi di dalam masyarakat. Dengan demikian pada hakekatnya masalah-masalah ekonomi itu wujud sebagai akibat dari adanya kebutuhan manusia yang jumlah dan jenisnya jauh lebih banyak apabila dibandingkan dengan jumlah dan jenis baran dan jasa yang dapat dihasilkan oleh berbagai jenis factor produksi yang tersedia.

2.1.2 Faktor Produksi
Faktor produksi adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia, atau disediakan oleh alam, dan dapat digunakan untuk memproduksikan berbagai jenis barang dan jasa yang mereka butuhkan. Faktor-faktor produksitersebut dapat dibedakan dalam empat golongan : tanah, tenaga kerja, modal, dan keahlian keusahawanan (entrepreneurship).
1.      Tanah
Pengertian “tanah” sebagai faktor produksi sedikit berbeda maknanya dengan pengertian “tanah” dalam bahasa sehari-hari. Dalam perbincangan khusus, ”tanah” diartikan sebagai bagian dari muka bumi yang tidak ditutupi air, atau bagian dari muka bumi yang dapat digunakan untuk bercocok tanam atau tempat tinggal. Sebagai faktor produksi yang dimksudkan dengan “tanah”, disamping meliputi pengertian sehari-hari tersebut, ia mencangkup pula sebagian kekayaan alam yang terdapat di muka bumi ini. Ia meliputi kekayaan yang terkandung diatas maupun di dalam tanah,seperti barang-barang tambang dan hasil-hasil hutan.

2.      Tenaga Kerja
Pengertian ini bukan saja berarti jumlah penduduk yang dapat digunakan dalam proses produksi, tetapi termasuk juga kemahiran-kemahiran yang mereka miliki. Oleh sebab itu tenaga kerja bukan saja diartikan sebagai besarnya tenaga jasmani yang dapat digunakan dalam proses produksi,tetapi juga meliputi kemampuan tenaga kerja yang ada untuk berfikir dan bekerja. Melihat kepada kesanggupan mereka untuk bekerja dan berfikir, tenaga kerja yang ada dalam masyarakat dapat dibedakan dalam tiga golongan. Yang pertama, adalah tenaga kerja yang tidak terdidik, yaitu tenega kerja yang tidak mempunyai pendidikan sehingga daya kerjanya terutama harus berasal dari tenaga jasmaninya. Termasuk dalam golongan tenaga kerja ini adalah petani, pekerja toko, penarik becak dan tenaga kerja lain yang semacam itu. Golongan kedua adalah tenaga kerja terlatih, adalah tenaga kerja yang memperoleh sedikit pendidikan dan latihan dalam bidang-bidang tertentu. Dalam golongan ini termasuk tukang kayu, tukang besi, tukang electrik dan sebagainya. Akhirnya terdapat pula golongan tenaga kerja yang sangat tinggi pendidikannya dan dinamakan tenaga terdidik. Mereka adalah guru, dosen, juru terbang, berbagai jenis tenaga teknik, dan sebagainya.

3.      Modal
Segala barang-barang yang diciptakan oleh manusia dengan tujuan untuk menghasilkan barang-barang lain atau jasa-jasa yang digunakan masyarakat termasuk dalam golongan ini. Beberapa contoh dari barang-barang seperti itu adalah irigasi, jalan-jalan, industri-industri dan peralatan-peralatan mereka, berbagai jenis mesin dan sebagainya. Dalam pengertian sehari-hari adakalanya ”modal” diartikan juga sebagai tabungan masyarakat yang dapat digunakan untuk membeli saham-saham perusahaan dan obligasi-obligasi pemerintah, atau digunakan untuk spekulasi, atau dipinjamkan kepada orang lain. Dalam analisa ekonomi uang atau “modal” yang dapat digunakan untuk maksud-maksud diatas tidak dianggap sebagai modal, tetapi hanyalah dipandang sebagai tabungan. Hal tersebut tidak boleh dianggap sebagai faktor produksi.

4.      Keahlian keusahawanan
Yang dimaksudkan dengan keahlian keusahawanan adalah kemampuan seseorang untuk menjalankan sesuatu perusahaan sehingga  ia dapat berjalan dengan efisien dan menguntungkan. Pada waktu yang lalu faktor  produksi ini digolongkan sebagai bagian dari tenaga kerja. Tetapi kemudian disadari bahwa keahlian keusahawanan merupakan suatu kemahiran yang istimewa, yang perlu dibedakan dengan kemahiran-kemahiran lainnya. Oleh sebab itu keahlian keusahawanan kemudian digolongkan menjadi satu golongan faktor produksi tersendiri. Keahlian keusahawanan ini fungsinya adalah mengorganisasi dan menggabungkan berbagi jenis faktor produksi itu untuk  menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan masyarakat.

2.1.3        Masalah Pokok dalam Setiap Perekonomian
      Masalah-masalah ekonomi yang pokok itu adalah :
1.      Apakah jenis barang-barang dan jasa-jasa yang harus diproduksikan?
Sebagai akibat langsung dari banyaknya jumlah kebutuhan manusia, sedangkan jumlah barang-barang dan jasa-jasa yang dapat diciptakan oleh faktor-faktor produksi yang tersedia terbatas, masyarakat harus membuat pilihan untuk menentukan jenis barang-barang dan jasa-jasa yang harus mereka hasilkan. Dalam mengatasi masalah ini masyarakat harus memikirkan dua persoalan: (i) menentukan jenis barang-barang dan jasa-jasa yang harus dihasilkan dan (ii) menentukan jumlah produksi dari setiap jenis barang tersebut.

2.      Bagaimanakah teknik dan gabungan faktor-faktor produksi  yang harus digunakan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut?
Untuk menghasilkan sesuatu barang biasanya ada beberapa cara yang dapat digunakan. Cara yang paling sesuai untuk dijalankan di dalam suatu masyarakat tergantung kepada keadaan yang ada dalam masyarakat tersebut. Produktivitas akan menjadi bertambah tinggi apabila teknologi yang digunakan semakin maju. Oleh sebab itu dalam teori dapat dikatakan bahwa produksi akan dapat mencapai jumlah yang lebih besar apabila menggunakan teknologi yang lebih modern.
Pada kenyataanya, adakalanya pemakaian teknik produksi yang tinggi tidak selalu merupakan cara yang efisien. Keadaan dimana permintaan yang wujud dalam masyarakat adalah jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kemampuan minimal dari suatu peralatan industry modern mungkin berlaku dalam masyarakat. Kalau peralatan modern digunakan, maka barang yang akan diproduksikan memakan ongkos yang tinggi. kalau keadaan seperti itu terjadi, menggunakan peralatan industry yang modern tersebut untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan masyarakat bukanlah merupakan tindakan yang bijaksana.
Faktor penting lainnya yang menentukan teknik produksi yang akan digunakan adalah tingkat teknologi yang dicapai oleh negara tersebut. Tingkat teknologi dalam suatu negara tergantung pada (i) sampai dimana modernnya alat-alat modal yang digunakan dan (ii) tingkat efisiensi tenaga kerja yang tersedia dalam masyarakat itu. Di negara-negara miskin, ketidakmampuan mereka untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi terutama disebabkan oleh karena tingkat kemahiran tenaga kerja dan produktivitas alat-alat modal yang redah.

3.      Bagimanakah pendapatan masyarakat didistribusikan diantara faktor-faktor produksi,dan bagaimana distribusi itu harus diperbaiki agar kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan mencapai taraf yang maksimal?
Proses produksi akan menciptakan pendapatan kepada berbagai factor produksi yang digunakan. Para pekerja menerima upah, para pemilik modal menerima pembagian keuntungan dan bunga, dan manager-manager perusahaan menerima gaji dan pembagian keuntungan. Di dalam membicarakan mengenai persoalan ini analisa ekonomi mencoba menerangkan bagaimana pendapatan dari berbagai factor produksi ditentukan. Dalam teori ekonomi dicoba diterangkan factor-faktor yang menentukan tingkat upah, tingkat bunga, dan factor-faktoryang akan menentukan keuntungan para pengusaha.

4.      Apakah penggunaan faktor-faktor produksi sudah mencapai efisiensi yang tinggi?
Kalau diamati keadaan dalam setiap perekonomian akan dapat dilihat bahwa faktor-faktor produksi tidak selalu digunakan secara efisien. Ketidakefisienan ini menyebabkan produksi yang diciptakan dalam negara itu jumlahnya lebih rendah jika dibandingkan dengan apabila factor-faktor produksi yang tersedia sepenuhnya digunakan. Oleh sebab itu adalah wajar apabila masalah ketidakefisienan dalam penggunaan factor-faktor produksi diatasi. Langkah seperti itu akan mempertinggi tingkat kesejahteraan masyarakat, karena lebih banyak pendapatan dan kesempatan kerja akan diciptakan.

5.      Mengapakah selalu timbul masalah kenaikan harga-harga dan bagaimanakah masalah itu harus diatasi?
Ketidakefisienan penggunaan factor-faktor produksi dapat juga menyebabkan masalah kenaikan harga atau inflasi. Sejak berabad-abad yang lalu telah disadari bahwa masalah kenaikan harga-harga menimbulkan akibat-akibat yang tidak menguntungkan kepada masyarakat. Perubahan harga-harga ke tingkat yang lebih tinggi dapat menghalangi perkembangan kegiatan produksi.

6.      Bagaimanakah usaha yang harus dijalankan agar dari satu masa ke masa  lainnya faktor-faktor produksi tetap dapat digunakan secara efisien?
Dari satu masa ke masa berikutnya factor-faktor produksi akan selalu bertambah. Perkembangannya yang paling nyata terjadi di dalam penawaran tenaga kerja. Pertambahan penduduk yang terjadi setiap waktu menyebabkan pertambahan dalam jumlah tenaga kerja. Pertambahan penduduk yang cepat ini dengan sendirinya akan menimbulkan pertambahan tenaga kerja yang cepat pula. Ini menyebabkan setiap perekonomian harus memikirkan cara untuk menyediakan tambahan pekerjaan dan menggunakan dengan sebaik-baiknya tenaga kerja yang bertambah itu.
Jenis factor produksi lain yang selalu bertambah dari masa ke masa adalah alat-alat modal. Sebagai akibat dari dilakukannya investasi pada suatu masa tertentu, pada masa berikutnya jumlah alat-alat modal akan menjadi bertambah besar. Oleh karenanya kesanggupan perekonomian itu untuk menghasilkan barang-barang dan jasa menjadi bertambah tinggi.akan tetapi tidak selalu alat-alat modal yang yang bertambah ini dapat secara penuh digunakan.
2.2 Definisi Ilmu Ekonomi
Ilmu ekonomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang berkembang sejak beberapa abad yang lalu. Perkembangannya sebagai suatu ilmu pengetahuan bermula setelah Adam Smith menerbitkan buku yang berjudul “An Inquiry into The Nature and Cause of The Wealth of Nations”. Beberapa pandangan dalam buku ini telah banyak mendapat sokongan dari para ahli ekonomi. Sehingga Adam Smith disebut sebagai Bapak Ekonomi. Setelah zaman Adam Smith, perekonomian berkembang sangat pesat yang diikuti dengan kegiatan perindustrian yang semakin canggih. Selain itu, saat ini organisasi perusahaan juga lebih kompleks dan sistem memproduksinya juga lebih rumit. Sehingga pada saat ini analisis ekonomi tentu lebih kompleks dan harus memberikan gambaran yang lengkap mengenai kegiatan ekonomi (Pasiamas, 2008).
Ilmu ekonomi dipelajari untuk dijadikan rujukan atau acuan didalam memahami dan memecahkan masalah ekonomi. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Pasiamas, 2008). Oleh karena itu, ilmu ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang moneter, seperti bidang penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik, kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya. Di lain sisi, Prof. Samuelson berpendapat bahwa ilmu ekonomi adalah suatu studi mengenai individu dan masyarakat membuat pilihan, dengan atau tanpa menggunakan uang, dengan menggunakan sumberdaya yang terbatas tetapi dapat digunakan dalam berbagai cara untuk menghasilkan menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa dan mendistribusikannya untuk kebutuhan konsumsi, sekarang dan di masa datang, kepada berbagai individu dan golongan masyarakat (Pasiama, 2008).
Pengertian Ekonomi menurut para ahli :
1.      Adam Smith mendefinisikan ekonomi sebagai kajian tentang sebab-sebab terjadinya kekayaan.
2.      F. A. Walker menyatakan ekonomi adalah satu cabang ilmu yang berhubungan dengan kekayaan.
3.      David Ricardo mendefinisikan ilmu ekonomi sebagai suatu kajian tentang hukum berbagai jenis golongan masyarakat.
4.      J. B. Say mendefinisikan ekonomi sebagai suatu kajian tentang peraturan yang menentukan kekayaan.
5.      J. S. Mill mendefinisikan ekonomi sebagai suatu ilmu yang berhubungan dengan pengeluaran hasil negara.
6.      Lionel Robbins mendefinisikan ekonomi sebagai suatu ilmu yang mengkaji tingkah laku manusia yang berhubungan dengan kehendak mereka yang tidak terbatas dengan sumber-sumber terbatas dengan memaksimalkan kegunaan (utility). Lionel Robbins membuat definisi ini berdasarkan empat ciri dasar kehidupan manusia yaitu:
a.       Manusia mempunyai kehendak untuk dipenuhi.
b.      Alat (uang) untuk memenuhi kehendak tersebut terbatas.
c.       Sumber yang terbatas digunakan untuk beberapa pilihan kegunaan.
d.      Manusia perlu membuat pilihan.
Pendapat lain menyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang menaruh perhatian pada teknik yang seharusnya digunakan untuk memanfatkan sumber daya yang terbatas jumlahnya untuk memuaskan kebutuhan manusia yang beraneka ragam (Sudarman, 1984). Sedangkan, pendapat yang lain menyatakan bahwa ilmu ekonomi sebagai suatu studi mengenai bagaimana seharusnya manusia atau masyarakat menentukan pilihannya, baik dengan atau tanpa menggunakan uang dalam memanfaatkan sumber daya yang terbatas dan yang mempunyai alternative penggunaan untuk menghasilkan barang serta kemudian mendistribusikannya, baik untuk keperluan sekarang atau masa yang akan datang diaantara anggota-anggota masyarakat.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang menganalisa ongkos dan manfaat (cost and benefit analysis) dari pola peningkatan alokasi sumber daya.

2.3  Kegiatan Ilmu Ekonomi
Kegiatan ekonomi mencakup 3 hal, yaitu :
a.       Produksi
Produksi adalah suatu kegiatan yang menghasilkan output dalam bentuk barang maupun jasa. Contoh : pabrik batre yang memproduksi batu baterai, tukang mie ayam yang membuat mie yamin, tukang pijet yang memberikan pelayanan jasa pijat dan urut kepada para pelanggannya, dan lain sebagainya.
1.      Barang apa yang di produksi dan berapa jumlahnya (what)
Masalah ini mencakup jenis barang yang diproduksi oleh masyarakat terkait dengan terbatasnya sumber daya yang ada. Sehingga, nantinya dapat diputuskan jumlah barang yang harus  diproduksi. Dengan demikian dapat diketahui sumber daya yang dibutuhkan untuk proses produksi.

2.      Bagaimana  cara memproduksi (how)
Masalah ini mencakup teknologi atau metode produksi yang digunakan untuk memproduksi suatu barang, meliputi : jumlah tenaga kerja, jenis mesin, serta bahan mentah apa yang akan digunakan. Serta, cara mengkombinasikan faktor-faktor produksi yang ada agar berhasil dan berdaya guna.

3.      Untuk siapa barang tersebut diproduksi (for whom)
Dalam masalah ini mencakup sasaran atau objek yang memerlukan barang tersebut dan yang menikmati hasilnya. Selain itu, perlu diketahui mengenai distribusi barang-barang yang diproduksi, sudah terdistribusi dengan benar (menurut ukuran pendapatan, kekayaan kelompok, dan masyarakat) atau tidak.

b.      Konsumsi
Konsumsi adalah suatu aktifitas memakai atau menggunakan suatu prosuk barang atau jasa yang dihasilkan oleh para produsen. Perusahaan atau perseorangan yang melakukan kegiatan konsumsi disebut konsumen. Contoh konsumsi dalam kehidupan kita sehari-hari seperti membeli jamu tolak angin di toko jamu, pergi ke dokter hewan ketika iguana kita sakit keras, , main dingdong, dan sebagainya.

c.       Distribusi
Distribusi adalah kegiatan menyalurkan atau menyebarkan produk barang atau jasa dari produsen kepada konsumen pemakai. Perusahaan atau perseorangan yang menyalurkan barang disebut distributor. Contoh distribusi seperti penyalur sembako, penyalur barang elektronik, penyalur pembantu, biro iklan, dan lain-lain.

2.4  Jenis Analisis Ilmu Ekonomi

Walaupun berbagai masalah ekonomi sudah dihadapi oleh manusia sejak berabad-abad yang lalu, analisa mengenai masalah-masalah itu, dan cara-cara untuk mengatasinya, barulah mulai dilakukan dengan sungguh-sungguh sejak permulaan abad ke-17. Masalah yang mula-mula menarik perhatian orang adalah perkaitan diantara perdagangan luar negeri dengan kekayaan dan tingkat kegiatan ekonomi sesuatu negara. Pemikir-pemikir ekonomi dalam abad ke-17.yang dalam sejarah pemikiran ekonomi digolongkan sebagai mazhab Merkantilis, menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri merupakan suatu kegiatan yang akan memperkaya dan mempertinggikan kegiatan ekonomi suatu negara. Oleh karenanya ahli-ahli ekonomi merkantilis menyarankan kepada pemerintah untuk berusaha mengembangkan ekspornya sehingga akan tetap selalu melebihi impor dan juga selalu berusaha agar neraca pembayaran keadaannya tetap menguntungkan. Dalam sejarah pemikiran ekonomi ahli-ahl ekonomi yang tergolong dalam mazhab Merkantilis dipandang sebagai perintis dari analisa ekonomi modern
Perkembangan yang lebih pesat dalam pemikiran-pemikiran ekonomi baru bermula pada bagian kedua abad ke-18. Ilmu ekonomi baru dipandang sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri setelah salah satu ahli ekonomi yang terbesar hingga masa kini, yaitu Adam smith, menerbitkan bukunya yang berjudul : An Inquiry into the Nature and Causes of the wealth of Nation. Dalam bukunya tersebut adam smith mengemukakan perdagangan-perdagangan yang menjadi landasan bagi analisa-analisa ekonomi yang dibuat hingga permulaan abad ke-20 ini. Dari analisa-analisa yang dibuat oleh ahli-ahli ekonomi sesudah adam smith terwujudlah suatu rangkaian teori-teori dasar dalam ilmu ekonomi yang dinamakan mikroekonomi. Sejak berlakunya kemrosotan ekonomi dunia dalam tahun 1923-32 timbul kritik ke atas pandangan-pandangan yang melandasi teori mikroekonomi. Kritik ini diikuti pula oleh perkembangan teori dasar lain dalam ilmu ekonomi, yaitu teori makroekonomi. Berikut ini secara singkat dijelaskan perbedaan asas diantara teori mikroekonomi dan teori makrekonomi.

A.    Teori Mikroekonomi
Teori mikroekonomi membahas tentang tiga masalah pokok pertama dari enam masalah ekonomi pokok yang telah diterangkan sebelum ini. Teori itu pertama-tama menjelaskan tentang proses penentuan tingkat harga dan jumlah barang yang diperjual – belikan di pasar. Analisa tersebut dinamakan teori harga. Analisa yang kedua menjelaskan dua  persoalan, yaitu : (i) cara produsen menentukan tingkat produksi yang akan memberikan keuntungan maksimal kepadanya ; dan (ii) cara seorang produsen memilih faktor- faktor produksi yang digunakannya sehingga penggunaan itu meminimalkan biaya dan memaksimalkan keuntungan. Analisa tersebut dinamakan teori produksi. Akhirnya analisa yang ketiga menjelaskan mengenai faktor-faktor yang menentukan pendapatan masing-masing faktor produksi. Analisa tersebut dinamakan teori distribusi.
Tiap analisa yang baru dinyatakan ini menjelaskan tentang corak kegiatan dalam sebagian kecil sajadari keseluruhan kegiatan ekonomi. Teori harga hanya menjelaskan bagaimana para pembeli dan penjual bertindk dalam pasar dari sesuatu jenis barang. Selanjutnya teori tersebut menjelaskan bagaimana tindakan-tindakan mereka menentukan jumlah barang yang diperjual-belikan dan tingkat harga dari barang tersebut. Dalam teori produksi juga dianalisa sebagian kecil daripada keseluruhan kegiatan ekonomi. Teori itu hanya menunjukkan tentang cara seorang produsen sesuatu jenis barang tertentu menentukan tingkat produksi yang memberikan keuntungan yang paling maksimal kepadanya. Dalam teori distribusi diterangkan tentang faktor-faktor yang menentukan tingkat upah tenaga kerja, tingkat bunga yang dibayar kepada modal yang digunakan, dan tingkat keuntungan yang diperoleh oleh pengusaha. Oleh karena sifat-sifat analisanya ini maka teori-teori tersebut dinamakan teori mikroekonomi, yaitu teori-teori itu hanya menganalisa aspek-aspek kecil tertentu saja dari keseluruhan kegiatan ekonomi.
Ahli-ahli ekonomi abad ke-18 dan ke-19 (yang dalam sejarah ekonomi digolongkan dalam mazhab klasik), yang mengembangkan teori-teori yang terkandung dalam teori mikroekonomi, kurang menumpahkan perhatian kepada analisa mengenai kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Keadaan ini  ditimbulkan oleh keyakinan bahwa persaingan yang wujud dalam pasar bebas akan menjamin terciptanya efisiensi yang sangat tinggi dalam berbagai kegiatan ekonomi yang berlaku dalam setiap masyarakat. Maka, oleh karena setiap kegiatan ekonomi dapat mencapai tingkat kegiatan yang maksimal keseluruhan kegiatan ekonomi akan selalu mencapai tingkat yang tinggi. Selanjutnya ahli-ahli ekonomi yang tergolong dalam mazhab klasik berkeyakinan pula bahwa dalam perekonomian tidak terdapat kekurangan permintaan keatas barang-barang yang diproduksi oleh para pengusaha. Keadaan ini menyebabkan pengangguran yang serius dan berlangsung lama tidak akan pernah wujud dalam sesuatu perekonomian.
Pandangan bahwa kekuatan-kekuatan  yang terdapat dalam pasar bebas akan menjamin tercapainya tingkat kegiatan ekonomi yang tinggi merupakan suatu pandangan yang dikembangkan oleh Adam smith. Pandangan ini kemudian dianut oleh kebanyakan ahli-ahli ekonomi dalam satu setengah abad sesudahnya. Adam Smith berkeyakinan bahwa pemerintah tidak perlu campur tangan di dalam mengendalikan kegiatan-kegiatan ekonomi dalam suatu masyarakat. Efisiensi yang tinggi dalam kegiatan ekonomi masyarakat akan tercapai apabila kegiatan-kegiatan tersebut diatur oleh kekuatan-kekuatan yang ditimbulkan oleh keinginan setiap pelaku dalam perekonomian untuk mencapai keuntungan atau kepuasan yang paling maksimal. Menurut falsafah ini, apabila anggota masyarakat yang terlibat sesuatu kegiatan ekonomi-sebagai pembeli, atau penjual, atau pemilik factor-faktor produksi-diberi kebebasan untuk menjalankan kegiatan mereka menuntut kehendak-kehendak mereka sendiri, maka kegiatan-kegiatan ekonomi akan mencapai efisiensi yang optimal. Oleh sebab itu, untuk mencapai tingkat kegiatan ekonomi yang tinggi dan efisien, pemerintah haruslah membatasi campur tangannya di dalam kegiatan ekonomi.
Pandangan yang berkeyakinan bahwa kegiatan-kegiatan dalam ekonomi harus sepenuhnya diatur oleh kekuatan-kekuatan yang wujud dalam pasar dinamakan falsafah pasar bebas atau laissez-faire. Falsafah pasar bebas ini merupakan falsafah yang menjadi landasan dari teori mikroekonomi.

B.     Teori Makroekonomi
Semenjak berlakunya kemerosotan perekonomian dunia yang sangat buruk dalam tahun 1929-1932, tingkat campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi telah menjadi bertambah besar. Terjadinya perubahan ini bersumber dari bertambah meluasnya kesadaran bahwa ekonomi diatur oleh pasar bebas tidak selalu menjamin terwujudnya penggunaan factor-faktor produksi secara efisien. Kemerosotan perekonomian yang sangat buruk tersebut menimbulkan kesadaran bahwa tanpa adanya campur tangan pemerintah perekonomian tidak akan selalu berjalan dengan efisien dan pengangguran akan selalu berlaku.
Perkembangan teori makroekonomi bermula dari kesadaran ini. Teori makronomi terutama dilandaskan kepada pemikiran john maynard Keynes, General theory of employment, interestand money. Buku ini menunjukkan kelemahan-kelemahan dari pandangan ahli-ahli ekonomi sebelumnya, yaitu ahli-ahli ekonomi klasik, yang melandaskan analisa mereka kepada keyakinan bahwa mekanisme pasar akan menciptakan kegiatan ekonomi yang efisien dan tingkat penggunaan factor-faktor produksi yang tinggi. Disamping itu, yang lebih penting lagi, buku itu mengemukakan teori tentang factor-faktor yang menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang akan dicapai suatu negara.
Teori makroekonomi menganalisa keadaan keseluruhan dari kegiatan sesuatu perekonomian, dan bukan bagian-bagian kecil daripadanya. Teori tersebut tidak membuat analisa tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seorang produsen,s eorang konsumen atau seorang pemilik factor produksi. Analisa makroekonomi dititik beratkan kepada membahas akibat dari keseluruhan tindakan para konsumen, para pengusaha, pemerintah dan kegiatan perdagangan luar negeri kepada tingkat kegiatan keseluruhan perekonomian. Didalam analisa makroekonomi ditunjukkan bahwa tingkat kegiatan ekonomi negara ditentukan oleh keseluruhan pengeluaran yang dilakukan dalam masyarakat.
Salah satu aspek penting dalam pandangan pokok dalam analisa makroekonomi adalah pendapat yang menyatakan bahwa tanpa adanya campur tangan pemerintah tingkat kegiatan ekonomi yang tercapai dalam masyarakat biasanya tidaka pada taraf penggunaan tenaga penuh. Di dalam hal ini teori makroekonomi pada hakikatnya bertujuan untuk menunjukkan (i) sebabnya factor-faktor produksi tidak digunakan secara sepenuhnya di dalam perekonomian yang diatur oleh mekanisme pasar, dan (ii) langkah-langkah bagaimana yang harus dilaksanakan pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran. Di samping analisa ini, teori makroekonomi menganalisa pula dua persoalan berikut (i) faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga barang dan cara untuk mengatasi masalah itu, dan (ii) keadaan yang bagaimanakah yang harus diciptakan agar factor-faktor produksi yang bertambah dari tahun ke tahun dapat digunakan secara efisien. Dengan demikian pada hakikatnya teori makroekonomi membahas tentang tiga masalah pokok yang terakhir dari enam masalah pokok yang dihadapi oleh setiap perekonomian.



2.5  Asumsi yang sering digunakan dalam Teori Ekonomi
Membuat permisalan merupakan salah satu syarat penting dalam membuat teori dalam hubungan sosial. Tanpa adanya permisalan (asumsi) tersebut sukar sekali untuk menjelaskan sifat-sifat hubungan diantara berbagai variabel karena kegiatan ekonomi dan kehidupan perekonomian sangat kompleks. Sebab suatu peristiwa dipengaruhi oleh berbagai faktor dan menerangkan bagaimana faktor-faktor tersebut menyebabkan suatu peristiwa tersebut menjadi rumit. Oleh karena itu, kondisi tersebut perlu dilakukan penyederhanaan, yaitu dengan membuat asumsi-asumsi. Berbagai asumsi yang sering digunakan dalam teori ekonomi, yaitu :
1.      Asumsi Rasionalitas.
Asumsi ini berlaku untuk semua teori ekonomi. Pelaku ekonomi yang diasumsikan bersikap rasional biasa disebut juga homo ekonomikus atau economic man. Penggunaan asumsi ini pada teori konsumen terwujud dalam bentuk asumsi bahwa rumah tangga keluarga senantiasa berusaha memaksimumkan kepuasan; yaitu yang dalam literatur terbiasa dengan sebutan utility maximization assumption. Sebaliknya dalam teori rumah tangga perusahaan, asumsi yang sama terjelma dalam bentuk asumsi bahwa rumah tangga perusahaan senantiasa berusaha memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Asumsi ini dalani literatur dikenal sebagai profit maximization assumption.
Contoh : Dalam pembelian deterjen merk A dengan berbagai pilihan berat yang berbeda, misalnya 75 gram dengan harga 500 serta 150 gram dengan harga 900. Secara rasional, pembeli akan lebih cenderung memilih deterjen dengan berat 150 gram, karena dianggap lebih hemat.

2.      Asumsi Ceteris Paribus.
Sebutan lain untuk asumsi ini ialah asumsi other things being equal atau lain-lain hal tetap sama atau lain-lain hal tidak berubah. Yang dikehendaki oleh asumsi mi ialah bahwa yang mengalami perubahan hanyalah variabel yang secara eksplisit dinyatakan berubah, sedangkan variabel-variabel lain yang tidak disebutkan berubah, sepanjang dalam model analisa tidak diasumsikan sebagai variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain harus dianggap tidak berubah.
Contoh : Permintaan sebuah pakaian dipengaruhi oleh harga, mode, pendapatan, cuaca, warna, dan faktor lainnya. Mengacu pada teori permintaan, maka permintaan akan pakaian dipengaruhi oleh harga. Jika harga naik maka permintaan akan turun, dan juga sebaliknya dengan asumsi ceteris paribus. Namun analisis akan berbeda jika kenaikan harga tersebut diikuti pula dengan kenaikan pendapatan, maka kemungkinan yang terjadi orang tidak akan mengubah permintaan.

3.      Asumsi Penyederhanaan.
Meskipun abstraksi sudah banyak sekali mengurangi kompleksnya permasalahan, agar supaya permasalahannya lebih mudah dianalisa dan dipahami, terkadang kita perlu menyederhanakan persoalan lebih lanjut. Misalnya saja menurut kenyataan jumlah macam barang dan jasa yang dihadapi rumah tangga keluarga tidak terhitung banyaknya. Akan tetapi, nanti akan kita saksikan penggunaan analisa indiferen untuk menerangkan teori permintaan, jumlah macam barang yang bisa termuat dalam grafik paling banyak hanya dua. Hal ini memaksa kita menggunakan asumsi bahwa konsumen hanya menghadapi dua macam barang atau jasa.
Contoh : Air mineral saat ini yang ada di pasaran sangat bervariasi, seperti Aqua, Club, Flow, Total, Cleo, Sam, Aries, O2, dll. Namun, jika dihadapkan pada semua merek ini,   

0 komentar:

Poskan Komentar